EMISI KARBON

Hilangnya hutan mangrove dan hutan pantai di HKm Seberang Bersatu akibat aktivitas penambangan timah menyebabkan emisi karbon. Kelimpahan pohon di HKm Juru Sebrang adalah 571 pohon/ha yang termasuk rusak berdasarkan standar baku mutu kerusakan mangrove. Rata-rata biomassa atas tanah adalah 14,09 ton/ha sedangkan stok karbon rata-rata adalah 6.62 ton/ha. Stok karbon tertinggi adalah 32.756 ton/ha. Biomassa tersebut tidak tersebar merata, kawasan yang dekat dengan pesisir dan kolam-kolam bekas tambang memiliki stok karbon yang sangat rendah (0-6 ton/ha), sedangkan kawasan yang sulit dijangkau cenderung memiliki stok karbon yang lebih besar.



Total stok karbon di HKM Seberang Bersatu adalah 4.704,158 tons dengan RMSE ±5.813 ton/ha. Berdasarkan perhitungan tersebut, HKM Juru Sebrang memiliki stok karbon yang sangat rendah. Kawasan yang ditambang memberikan hasil stok karbon yang paling rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan berdampak buruk pada ekosistem hutan. Kawasan yang baik masih memiliki stok karbon yang lebih tinggi. Sebaran karbon dapat digunakan sebagai panduan pemilihan lokasi rehabilitasi. Kawasan tersebut dapat dijadikan sebagai sumber bibit yang dapat digunakan untuk rehabilitasi mangrove tanpa perlu mengambil bibit dari tempat lain.


Berdasarkan Balitbang Kehutanan, cadangan karbon tanah untuk Hutan Mangrove Sekunder adalah = 28.8 – 174.4 ton karbon / Ha, maka cadangan karbon tanah di luasan 757 Ha adalah Min = 28,8 x 757 = 21.801,6 ton karbon dan Max = 174,4 x 757 = 132.020,8 ton karbon. Maka total cadangan karbon atas tanah ditambah cadangan karbon tanah berkisar antara 26.505,758 – 136.724,958 ton karbon. Dampak dari Program Belitung Mangrove Park yaitu potesi penurunan emisi: 220.200 ton CO2 eq/tahun.